Kamis, 04 September 2014
Browse »
home»
“Agama
»
Artikel
»
dan
»
ditulis
»
Hidayat
»
Komaruddin
»
kritik
»
oleh
»
Pemilu”
»
yang
»
Kritik Artikel “Agama dan Pemilu” yang ditulis oleh Komaruddin Hidayat
Kritik Artikel “Agama dan Pemilu” yang ditulis oleh Komaruddin Hidayat
Saya sependapat dengan Komaruddin Hidayat yang mengatakan bahwa pengaruh keagamaan, terutama agama mayoritas yaitu agama Islam, masih sangat kuat di setiap pemilihan umum di Indonesia. Masyarakat masih berpendapat bahwa pemimpin kita haruslah orang yang beragama Islam. Mereka lupa bahwa negara Indonesia bukanlah negara agama. Dalam syarat-syarat menjadi Presiden dan Wakil Presiden pun tidak mengharuskan capres dan cawapresnya adalah orang yang beragama Islam.
Meskipun benar bahwa kepemimpinan yang baik haruslah dengan pemimpin yang baik juga. Dalam konsep Islam, kepemimpinan yang amanah akan terwujud bila pemimpinnya juga amanah. Maksudnya adalah untuk mewujudkan negara yang sesuai dengan konsep Islami, harus diimbangi dengan pemimpin yang berasal dari agama Islam pula. Tapi apakah itu sesuai dengan negara Indonesia yang berpenduduk dengan berbagai agama? Apakah itu adil bagi mereka yang berasal dari agama minoritas? Sempat timbul pendapat yang mengatakan bahwa lebih baik kita mempunyai pemimpin yang bukan beragama Islam tapi memimpin dengan bijak daripada pemimpin yang beragama Islam tapi pelaku korupsi. Pendapat tersebut disanggah oleh seorang mu’alaf yang sekarang aktif berdakwah, yang dikenal dengan nama Ustadz Felix Shiaw. Beliau berpendapat bahwa tidak ada hal yang lebih baik dalam hal keburukan. Menurut beliau pendapat yang mengatakan bahwa lebih baik memiliki pemimpin yang berbeda agama dengan kepemimpinan yang bijak tidaklah benar. Baiknya adalah pemimpinan yang seagama dengan sistem kepemimpinan yang amanah.
Sebenarnya saya juga sependapat denganpendapat Ustadz Felix. Oleh karenanya, kita membutuhkan calon-calon pemimpin yang benar-benar taat pada agama. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa banyak orang yang benar-benar beragama Islam yang mencalonkan diri sebagai pemimpin yang benar-benar amanah? Memang pasti ada, tapi mereka pasti hanya segelintir orang dari sekian banyak calon. Dan karena mereka benar-benar orang yang beragama, mereka juga pasti akan melakukan kampanye sesuai dengan syariat agama. Dengan kata lain, mereka pasti tidak akan menghambur-hamburkan berjuta-juta uang hanya untuk kampanye sehingga membuat mereka tidak terlihat oleh masyarakat karena kurangnya aktivitas kampanye. Bahkan mungkin hanya orang–orang terdekatnya saja yang tahu bahwa ada pemimpin amanah yang sedang memperjuangkan niatnya. Kepopuleran mereka tertutupi oleh calon-calon lain yang arogan dan serakah pada kekuasaan hingga akhirnya calon pemimpin yang amanah tadi tersingkir dengan sendirinya.
Bukan hal aneh lagi bagi kita bila ada orang yang benar-benar baik tersingkir atau kalah oleh orang-orang jahat. Bahkan boleh jadi orang-orang baik yang tak bersalah menjadi kambing hitam atas kesalahan orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Menurut saya, tak ada salahnya bila mereka yang berbeda agama menjadi pemimpin di Indonesia selama mereka menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan konsep Islami. Selama mereka tetap menghormati keberadaan agama Islam dan agama lainnya di Indonesia. Selama mereka mampu menciptakan kedamaian serta kerukunan antarumat beragama serta tidak menganaktirikan agama Islam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar