Tampilkan postingan dengan label akibat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akibat. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 21 Desember 2013
‘Kolam ajaib’ telan pokok kelapa Lubang akibat mendapan ramai anggap air jadi penawar
OSMAN menggunakan batang besi bagi mengukur kedalaman kolam air yang terdapat di kawasan kebunnya di Kangar semalam.
KANGAR - Sepasang suami isteri terkejut apabila mendapati sebuah kolam air ajaib sebesar 7.5 meter terbentuk dipercayai akibat mendapan tanah di belakang rumahnya di Kampung Behor Janggus di sini baru-baru ini.
Pemilik tanah di kawasan itu, Osman Abu Bakar, 70, (gambar) berkata, kolam tersebut dipercayai terbentuk dalam pada malam Ahad lalu dan telah menelan beberapa tanaman di kebunnya termasuk tiga pokok kelapa yang setinggi lebih 5.5 meter di kawasan yang sama.
"Sejak berita mengenai pembentukan kolam ini, ia mula tersebar dan orang ramai mula berkerumun untuk mengambil air dari kolam itu yang disangka mempunyai kuasa ajaib.
"Oleh itu, bagi mengelak kemalangan atau khurafat saya terpaksa menutup dengan memasang pita penghadang di sekeliling kolam berkenaan bagi mengelak kejadian tidak diingini berlaku," katanya ketika ditemui di sini semalam.
Menurut Osman, kolam ajaib tersebut yang menakung air kini menjadi tumpuan orang ramai termasuk dari luar Perlis yang bertandang untuk mengambil air dari kolam itu kononnya bagi dijadikan penawar.
Menceritakan bagaimana kolam ajaib tersebut terbentuk, menurut Osman, ia hanya disedari pada pagi Isnin tersebut ketika dia melihat tanaman kebunnya yang tiba-tiba lapang berbanding sebelum ini dipenuhi pokok.
Kamis, 19 Desember 2013
Anak Ini Dikeluarkan dari Sekolah Akibat Terlalu Pintar

Seorang anak laki-laki di Kabupaten Agam, Sumatera Barat putus sekolah karena tingkat kecerdasannya melebihi anak-anak sebayanya.
Bocah bernama Muhammad Rizki Ramadan ini hanya diberi kesempatan mengenyam bangku pendidikan di Sekolah Dasar selama enam bulan. Kecerdasan Rizki memang di atas rata-rata anak seusianya. Di usianya yang ketujuh tahun, dia sudah fasih berbahasa asing, seperti Inggris, Malaysia, India dan Mandarin.
Menurut ayahanda Rizki, Mayunis, bahasa-bahasa yang dikuasai putra bungsunya itu dipelajari sendiri secara otodidak alias tanpa guru. “Dulu sekolahnya TK di Simpang Balai, waktu kami tinggal di Cangkiang. Sewaktu di TK aman sampai tamat. Tapi, waktu sekolah di SD Negeri Cangkiang itu hanya 6 bulan, arena dia tidak mau pelajaran diterangkan dua kali, kalau dua kali, dia maunya keluar ruangan saja,” kata Mayunis.
Dikatakan Mayunis, Rizki akhirnya dikeluarkan dari sekolah karenamengganggu proses belajar mengajar. “Guru-gurunya kewalahan dengan kecerdasannya yang melebihi teman-teman sekelasnya,” katanya.
Lebih lanjut Mayunis mengungkapkan, kecerdasan Rizki sudah terlihat dari sejak dia berbicara di usia dua tahun. “Dia belajar dari buku, TV, kalau film dia tidak mau nonton, dia suka lihat berita, politik dan bola, dia kelihatan seperti ini sewaktu kecil pas pandai bicara langsung pandai membaca, lihat TV sekilas langsung dapat, dia pandai membaca begitu saja tanpa belajar atau diajarkan,” tuturnya.
Saat ini Rizki ingin kembali bersekolah. Selain karena ingin bermain bersama teman-teman sebayanya, Rizki juga merasa masih haus dengan ilmu-ilmu yang dapat dipelajari di sekolah. Namun, pihak sekolah pernah menyarankan agar Rizki berada di kelas dan sekolah dengan penanganan khusus.
Sayangnya, orangtua Rizki merasa pekerjaannya sebagai buruh tani dan ibu rumah tangga tidak akan sanggup membiayai kelangsungan pendidikan anaknya. “Saya tidak kuat jika harus memasukkan anak ke sekolah khusus apalagi untuk membayar guru privat khusus yang didatangkan ke rumah,” katanya.
Bocah bernama Muhammad Rizki Ramadan ini hanya diberi kesempatan mengenyam bangku pendidikan di Sekolah Dasar selama enam bulan. Kecerdasan Rizki memang di atas rata-rata anak seusianya. Di usianya yang ketujuh tahun, dia sudah fasih berbahasa asing, seperti Inggris, Malaysia, India dan Mandarin.
Menurut ayahanda Rizki, Mayunis, bahasa-bahasa yang dikuasai putra bungsunya itu dipelajari sendiri secara otodidak alias tanpa guru. “Dulu sekolahnya TK di Simpang Balai, waktu kami tinggal di Cangkiang. Sewaktu di TK aman sampai tamat. Tapi, waktu sekolah di SD Negeri Cangkiang itu hanya 6 bulan, arena dia tidak mau pelajaran diterangkan dua kali, kalau dua kali, dia maunya keluar ruangan saja,” kata Mayunis.
Dikatakan Mayunis, Rizki akhirnya dikeluarkan dari sekolah karenamengganggu proses belajar mengajar. “Guru-gurunya kewalahan dengan kecerdasannya yang melebihi teman-teman sekelasnya,” katanya.
Lebih lanjut Mayunis mengungkapkan, kecerdasan Rizki sudah terlihat dari sejak dia berbicara di usia dua tahun. “Dia belajar dari buku, TV, kalau film dia tidak mau nonton, dia suka lihat berita, politik dan bola, dia kelihatan seperti ini sewaktu kecil pas pandai bicara langsung pandai membaca, lihat TV sekilas langsung dapat, dia pandai membaca begitu saja tanpa belajar atau diajarkan,” tuturnya.
Saat ini Rizki ingin kembali bersekolah. Selain karena ingin bermain bersama teman-teman sebayanya, Rizki juga merasa masih haus dengan ilmu-ilmu yang dapat dipelajari di sekolah. Namun, pihak sekolah pernah menyarankan agar Rizki berada di kelas dan sekolah dengan penanganan khusus.
Sayangnya, orangtua Rizki merasa pekerjaannya sebagai buruh tani dan ibu rumah tangga tidak akan sanggup membiayai kelangsungan pendidikan anaknya. “Saya tidak kuat jika harus memasukkan anak ke sekolah khusus apalagi untuk membayar guru privat khusus yang didatangkan ke rumah,” katanya.
Langganan:
Postingan (Atom)